Curup – Perpustakaan di Indonesia tengah memasuki babak baru transformasi yang menempatkannya tidak lagi sekadar sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai pusat pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Perubahan tersebut menjadi respons terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat serta tuntutan masyarakat pada era Society 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan berbasis teknologi.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup, Rhoni Rodin, dalam kuliah dosen tamu internasional bertajuk “Innovation in the Library: Indonesian Perspectives” yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Senin (9/6/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi seperti internet, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Big Data, komputasi awan, media sosial, dan teknologi mobile telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memanfaatkan informasi. Kondisi ini membuat perpustakaan harus melakukan transformasi agar tetap relevan di tengah masyarakat digital.
“Perpustakaan modern tidak lagi dapat bertahan hanya dengan mengandalkan koleksi fisik dan layanan konvensional. Perpustakaan harus mampu menghadirkan inovasi dalam layanan, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan literasi digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu perpustakaan dipandang sebagai gudang pengetahuan (warehouse of knowledge) yang berfungsi menyimpan dan menyediakan koleksi informasi. Namun saat ini perpustakaan berkembang menjadi pusat pembelajaran, pusat inovasi, pusat kolaborasi, dan pusat kecerdasan masyarakat (community intelligence center).
Transformasi tersebut semakin penting seiring hadirnya konsep Society 5.0 yang diperkenalkan Jepang. Dalam konsep ini, teknologi digunakan bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Perpustakaan memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara manusia dan teknologi. Perpustakaan membantu masyarakat memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijaksana,” katanya.
Di Indonesia, transformasi perpustakaan menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesenjangan akses informasi, ketimpangan infrastruktur digital, rendahnya budaya literasi, keterbatasan anggaran, hingga masih minimnya kompetensi digital sebagian sumber daya manusia perpustakaan.
Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, Indonesia masih menghadapi persoalan pemerataan akses informasi. Banyak perpustakaan di wilayah terpencil yang belum memiliki akses internet memadai maupun fasilitas teknologi yang mendukung layanan digital.
Selain itu, rendahnya budaya literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat cenderung lebih banyak mengonsumsi informasi secara instan melalui media sosial dibandingkan melakukan eksplorasi pengetahuan melalui sumber-sumber yang kredibel.
Meski demikian, peluang pengembangan perpustakaan di Indonesia dinilai sangat besar. Pertumbuhan pengguna internet, meningkatnya penggunaan smartphone, serta berkembangnya ekosistem digital nasional membuka ruang bagi lahirnya berbagai inovasi perpustakaan.
Saat ini, banyak perpustakaan mulai mengadopsi konsep Smart Library, Hybrid Library, Inclusive Library, dan Human-Centered Library. Konsep-konsep tersebut menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sekaligus menjaga dimensi kemanusiaan dalam layanan informasi.
Dalam konsep Smart Library, perpustakaan memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), Big Data, dan sistem otomasi untuk meningkatkan kualitas layanan. Sementara Hybrid Library mengintegrasikan koleksi fisik dan digital agar pengguna dapat mengakses informasi secara fleksibel.
Adapun Inclusive Library menekankan akses informasi yang setara bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Sedangkan Human-Centered Library menempatkan pengguna sebagai pusat seluruh proses pengembangan layanan.
Lebih lanjut, Rhoni Rodin menegaskan bahwa inovasi perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mencakup inovasi sosial dan inovasi layanan. Melalui program literasi digital, pemberdayaan masyarakat, pelatihan keterampilan, serta pengembangan ruang kreatif, perpustakaan dapat berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Perpustakaan juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dalam konteks tersebut, perpustakaan menjadi institusi yang bertugas meningkatkan literasi digital masyarakat sehingga mampu berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital nasional.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga katalisator pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan. Melalui literasi digital, perpustakaan membantu menciptakan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing,” jelasnya.
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, pustakawan dituntut memiliki kompetensi baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Setidaknya terdapat empat kompetensi utama yang harus dimiliki pustakawan abad ke-21, yaitu sebagai digital curator, learning facilitator, innovation leader, dan information specialist.
Menurutnya, pustakawan modern tidak lagi sekadar mengelola koleksi, tetapi juga menjadi fasilitator pembelajaran, pengelola pengetahuan, pemimpin inovasi, sekaligus penjaga kualitas informasi di tengah maraknya hoaks dan disinformasi.
Di akhir pemaparannya, ia menekankan pentingnya membangun budaya inovasi melalui kepemimpinan yang visioner, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan gerakan literasi digital yang berkelanjutan.
“Pada akhirnya, perpustakaan yang hebat tidak diukur dari seberapa banyak koleksi yang tersimpan di raknya, melainkan dari seberapa besar dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat serta kontribusinya dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.






Tinggalkan Balasan