Menu
Kemahasiswaan Fakultas

MASTA’AWA FUAD IAIN Curup tahun 2026, Dorong Mahasiswa Baru Tumbuh sebagai Insan Intelektual dan Aktif Berorganisasi

18 September 2026
Estimasi waktu baca: 3 menit
24 kali dilihat
MASTA’AWA FUAD IAIN Curup tahun 2026, Dorong Mahasiswa Baru Tumbuh sebagai Insan Intelektual dan Aktif Berorganisasi

FUAD IAIN Curup, — Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Curup menggelar kegiatan MASTA’AWA (Masa Ta’aruf Mahasiswa) di Gedung Kembar Laboratorium FUAD IAIN Curup, Jumat (18/9). Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FUAD, Wakil Dekan I, para ketua program studi, serta mahasiswa FUAD. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan diikuti mahasiswa dengan antusias dan penuh semangat.

Kegiatan MASTA’AWA menjadi salah satu momentum awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah sekaligus membangun hubungan antarmahasiswa dari berbagai program studi. Dalam sambutannya, Dekan FUAD Dr. Fakhruddin, S.Ag.,M.Pd.I menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi diharapkan menjadi awal dari proses pembentukan karakter dan pengembangan diri mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dekan menjelaskan bahwa FUAD merupakan ruang bersama bagi mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), serta Ilmu Perpustakaan dan informasi Islam (IPII). Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya membangun relasi di lingkungan program studinya masing-masing, tetapi juga mengenal dan membangun kebersamaan dengan mahasiswa dari program studi lainnya.

“Kegiatan tujuan akhirnya adalah kita membina atau kita merangkul kawan-kawan kita. Jadi setelah kalian keluar dari ranah prodi kalian, kalian ada kawan. Itu harapan kami untuk ke depan,” ujarnya.

Menurut Dekan, keberadaan forum dan kegiatan bersama di lingkungan fakultas diharapkan dapat memperkuat rasa kekeluargaan mahasiswa. Interaksi lintas program studi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan akademik yang terbuka dan saling mendukung.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah berupaya mempersiapkan kegiatan. Menurutnya, kerja kepanitiaan merupakan bagian dari proses pembelajaran mahasiswa dalam mengelola kegiatan dan menjalankan tanggung jawab. Dekan berharap pelaksanaan kegiatan ke depan dapat terus mengalami peningkatan.

MASTA’AWA sebagai Awal Proses Pertumbuhan Mahasiswa

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FUAD mengingatkan mahasiswa bahwa memasuki perguruan tinggi merupakan sebuah proses transformasi dari siswa menjadi mahasiswa. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan status pendidikan, tetapi juga menyangkut cara berpikir, sikap, dan perilaku.

“Selamat bertumbuh, selamat berproses, dan selamat menjadi bagian keluarga besar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah.” Katanya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.

“Jangan pernah takut kalian untuk berbeda pendapat, jangan takut bertanya, karena itulah salah satu proses kalian tumbuh di fakultas kita ini.”ujar Dr. Fakhruddin

Pesan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai bagian aktif dalam proses akademik. Mahasiswa tidak hanya dituntut menerima informasi, tetapi juga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir, berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Dekan FUAD menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi yang berbeda dengan siswa. Mahasiswa merupakan pemuda yang memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial.

Karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan intelektualitas sebagai bagian dari proses pendidikan. Menurut Dekan, intelektualitas tidak hanya berkaitan dengan banyaknya wawasan yang dimiliki, tetapi juga kemampuan membaca situasi dan memahami perkembangan yang terjadi.

“Mahasiswa itu harus berpikir luas atau biasa disebut dengan intelektual. Mahasiswa itu harus intelektual.” Jelasnya.

Dr. Fakhruddin menambahkan bahwa kemampuan membaca situasi menjadi salah satu karakter penting seorang intelektual. Mahasiswa diharapkan mampu melihat persoalan secara lebih luas dan mengembangkan cara berpikir yang memungkinkan mereka memahami berbagai perkembangan di lingkungan sosial.

Selain pola pikir, Dekan FUAD menekankan pentingnya pola sikap. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki sikap dewasa, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan dan mengambil keputusan penting dalam kehidupannya.

“Orang dewasa adalah orang yang bisa mengambil keputusan penting dalam hidupnya,” jelasnya.

Dekan juga menjelaskan bahwa keberanian menyampaikan pendapat maupun melakukan protes merupakan bagian dari kehidupan akademik. Namun, hal tersebut perlu dilakukan dengan sikap yang dewasa dan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, mahasiswa dapat belajar menyampaikan aspirasi sekaligus memahami proses penyelesaian persoalan secara bertanggung jawab.

Aktivitas Organisasi sebagai Ruang Pengembangan Diri

Selain kemampuan akademik, mahasiswa juga didorong untuk aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi. Dekan FUAD menilai aktivitas kemahasiswaan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pengalaman, kemampuan sosial, kepemimpinan, serta memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjalani rutinitas perkuliahan, tetapi juga memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia di dalam maupun di luar kampus.

“Nanti akan ada terlibat dengan berbagai organisasi, dan itu bagus! Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu tadi.”

Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki aktivitas yang produktif agar dapat mengembangkan potensi dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Keterlibatan dalam organisasi kampus maupun organisasi di luar kampus menjadi salah satu sarana untuk memperluas pengalaman mahasiswa.

Dekan menggambarkan aktivitas mahasiswa sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Ia menekankan bahwa mahasiswa perlu bergerak, beraktivitas, dan berkontribusi agar keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.

“Mahasiswa, manusia tanpa aktivitas itu seperti air tergenang dan dia akan membusuk. Maka dia harus banyak aktivitas, dia harus beriak, sehingga dia bermanfaat bagi dirinya dan orang lain dan masyarakat.”

Melalui MASTA’AWA, FUAD IAIN Curup mendorong mahasiswa baru untuk menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang pertumbuhan intelektual, pembentukan sikap dewasa, pengembangan kemampuan sosial, serta peningkatan partisipasi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Dengan semangat kebersamaan, keberanian berpikir, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan kampus, mahasiswa diharapkan mampu berkembang menjadi insan akademik yang memiliki wawasan luas serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

 

Bagikan Artikel Ini

Kembali ke Daftar Berita