Menu

Indeks Berita

Kumpulan berita, informasi, dan pengumuman terbaru.

Rapat Konsorsium Keilmuan FUAD: Dorong Inovasi dan Kolaborasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Akademik Fakultas 25 Jun 2026

Rapat Konsorsium Keilmuan FUAD: Dorong Inovasi dan Kolaborasi Tri Dharma Perguruan Tinggi

Curup – Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Curup mengadakan rapat konsorsium keilmuan yang melibatkan Ketua Prodi, Ketua dan Sekretaris Keilmuan di lingkungan FUAD. Kegiatan tersebut berlangsung di ruang rapat Fakultas, (24/6) Rapat konsorsium ini menjadi membahas berbagai program dan kebijakan akademik yang akan dijalankan oleh program studi. Dalam suasana yang berlangsung interaktif, para peserta rapat diberikan kesempatan untuk menyampaikan roadmap penelitian dan pengabdian masing-masing program studi. Rapat juga menyoroti penguatan sistem akademik melalui pengembangan modal intelektual dan modal sosial mahasiswa. Modal intelektual yang menjadi perhatian mencakup peningkatan wawasan serta keterampilan atau kompetensi mahasiswa sesuai bidang keilmuan masing-masing. Sementara itu, pada aspek modal sosial, peserta rapat membahas pentingnya pembentukan karakter mahasiswa melalui penguatan sikap (attitude), seperti kemampuan beradaptasi, integritas, serta kesantunan dalam kehidupan akademik maupun sosial. Pembahasan lainnya yang tidak kalah penting adalah mengenai profil lulusan pada setiap program studi. Setiap prodi didorong untuk memperjelas dan memperkuat profil lulusan agar memiliki identitas keilmuan yang khas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu menjawab tantangan dunia kerja di masa depan. Melalui rapat konsorsium ini, diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarprogram studi, meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta menyusun strategi yang efektif dalam menghadapi penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027.

Simulasi Press Conference: Mahasiswa KPI Belajar Jadi Praktisi Humas Sejak di Bangku Kuliah
Akademik Fakultas 17 Jun 2026

Simulasi Press Conference: Mahasiswa KPI Belajar Jadi Praktisi Humas Sejak di Bangku Kuliah

FUAD IAIN Curup, – Suasana berbeda tampak dalam perkuliahan Mata Kuliah Hukum dan Etika Humas Program Studi KPI. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam simulasi press conference yang dirancang menyerupai praktik kehumasan profesional, Rabu (17/6). Dalam kegiatan ini, mahasiswa berperan sebagai humas, jurnalis, moderator, hingga narasumber. Mereka dituntut menyusun pesan komunikasi, menghadapi pertanyaan kritis media, serta menerapkan prinsip-prinsip etika dan hukum kehumasan dalam situasi yang mendekati dunia kerja sesungguhnya. Dosen pengampu Mata Kuliah Hukum dan Etika Humas, Dita Verolyna, M.I.Kom, menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis praktik menjadi salah satu cara untuk memperkuat kompetensi mahasiswa. “Melalui simulasi press conference ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori hukum dan etika humas, tetapi juga belajar mengimplementasikannya secara langsung. Kami ingin mahasiswa KPI memiliki pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sehingga lebih siap menghadapi tantangan profesi komunikasi dan kehumasan,” ujarnya. Ketua Program Studi KPI, Meysara, M.I.Kom, mengapresiasi inovasi pembelajaran yang mendorong mahasiswa lebih aktif dan kreatif. “Kami terus mendorong proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik. Simulasi seperti ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi, berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon profesional di bidang komunikasi,” tuturnya. Dukungan juga datang dari Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), Dr. Fakhruddin, M.Pd. Menurutnya, pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata akan memberikan dampak positif terhadap kualitas lulusan. “Kegiatan ini menunjukkan komitmen Program Studi KPI dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman praktis yang akan menjadi bekal penting ketika terjun ke dunia profesional maupun masyarakat,” ungkapnya. Melalui simulasi press conference ini, mahasiswa KPI diharapkan semakin memahami peran strategis humas dalam membangun komunikasi yang efektif, menjaga reputasi lembaga, serta mengedepankan nilai-nilai etika dalam setiap aktivitas komunikasi. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa ruang kelas dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang mampu mendekatkan mahasiswa dengan realitas dunia kerja.

Benarkah Tugas Kuliah Mahasiswa KPI IAIN Curup Ini Berdampak Langsung bagi UMKM? Ini Faktanya
Akademik Fakultas 17 Jun 2026

Benarkah Tugas Kuliah Mahasiswa KPI IAIN Curup Ini Berdampak Langsung bagi UMKM? Ini Faktanya

FUAD IAIN Curup – Siapa sangka, tugas kuliah yang biasanya identik dengan laporan dan presentasi di kelas justru mampu memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha. Hal inilah yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Semester 6 IAIN Curup yang mengimplementasikan tugas mata kuliah digital Advertising melalui pendampingan digital kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).ldi Rejang Lebong. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu komunikasi, branding, pembuatan konten, hingga strategi promosi digital secara langsung di tengah masyarakat. Juga untuk meningkatkan portofolio mahasiswa. Melalui program tersebut, mahasiswa membantu UMKM dalam meningkatkan kualitas promosi usaha, memperbaiki tampilan media sosial, menyusun strategi komunikasi pemasaran, serta memperluas jangkauan informasi produk kepada masyarakat. Hasilnya, sejumlah pelaku UMKM mengaku mendapatkan manfaat nyata dari pendampingan yang dilakukan mahasiswa. UMKM yang didampingi Tersebut antara lain UMKM Nyinyir Cemil, UMKM Ikona Esteh, UMKM Pentol Bakso Bangdon, UMKM Martabak India, dandan UMKM Nasi Gigit Mbakwit. Dr. Robby Aditya Putra, M.A dosen pengampu MK Digital Advertising menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis praktik dan pengabdian masyarakat yang bertujuan menciptakan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Mahasiswa KPI tidak hanya belajar bagaimana berkomunikasi di ruang kelas, tetapi juga bagaimana ilmu yang mereka miliki dapat menjadi solusi atas kebutuhan masyarakat, termasuk membantu UMKM beradaptasi dengan perkembangan digital,” ujarnya. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan komunikasi, manajemen media, dan pemecahan masalah secara langsung. Sementara bagi UMKM, pendampingan tersebut menjadi dorongan untuk lebih percaya diri dalam memanfaatkan platform digital sebagai sarana pengembangan usaha. Menurut Meysara, M.Sos ketua Prodi KPI, kegiatan ini menunjukkan bahwa tugas kuliah tidak selalu berakhir di meja dosen. Dengan kreativitas dan semangat pengabdian, mahasiswa KPI mampu mengubah tugas akademik menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha. "Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa prodi KPI memiliki peran strategis dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi antara dunia akademik dan kebutuhan nyata di lapangan," ujarnya Dekan FUAD, Dr. Fakhruddin, M.Pd.I mengapresiasi kegiatan ini dan berharap mahasiswa dapat memiliki kompetensi yg berkualitas. "Saya mengapresiasi inisiatif dan kreativitas mahasiswa yang telah menghasilkan karya nyata melalui tugas kuliah yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Ini membuktikan bahwa pembelajaran di fakultas kita tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan manfaat bagi lingkungan sekitar, " katanya.

Transformasi dan Inovasi Perpustakaan Indonesia di Era Digital dan Society 5.0
Akademik Fakultas 11 Jun 2026

Transformasi dan Inovasi Perpustakaan Indonesia di Era Digital dan Society 5.0

Curup – Perpustakaan di Indonesia tengah memasuki babak baru transformasi yang menempatkannya tidak lagi sekadar sebagai tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai pusat pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Perubahan tersebut menjadi respons terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat serta tuntutan masyarakat pada era Society 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan berbasis teknologi. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup, Rhoni Rodin, dalam kuliah dosen tamu internasional bertajuk “Innovation in the Library: Indonesian Perspectives” yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Senin (9/6/2026). Menurutnya, perkembangan teknologi seperti internet, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Big Data, komputasi awan, media sosial, dan teknologi mobile telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memanfaatkan informasi. Kondisi ini membuat perpustakaan harus melakukan transformasi agar tetap relevan di tengah masyarakat digital. “Perpustakaan modern tidak lagi dapat bertahan hanya dengan mengandalkan koleksi fisik dan layanan konvensional. Perpustakaan harus mampu menghadirkan inovasi dalam layanan, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan literasi digital,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu perpustakaan dipandang sebagai gudang pengetahuan (warehouse of knowledge) yang berfungsi menyimpan dan menyediakan koleksi informasi. Namun saat ini perpustakaan berkembang menjadi pusat pembelajaran, pusat inovasi, pusat kolaborasi, dan pusat kecerdasan masyarakat (community intelligence center). Transformasi tersebut semakin penting seiring hadirnya konsep Society 5.0 yang diperkenalkan Jepang. Dalam konsep ini, teknologi digunakan bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Perpustakaan memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara manusia dan teknologi. Perpustakaan membantu masyarakat memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijaksana,” katanya. Di Indonesia, transformasi perpustakaan menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesenjangan akses informasi, ketimpangan infrastruktur digital, rendahnya budaya literasi, keterbatasan anggaran, hingga masih minimnya kompetensi digital sebagian sumber daya manusia perpustakaan. Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, Indonesia masih menghadapi persoalan pemerataan akses informasi. Banyak perpustakaan di wilayah terpencil yang belum memiliki akses internet memadai maupun fasilitas teknologi yang mendukung layanan digital. Selain itu, rendahnya budaya literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat cenderung lebih banyak mengonsumsi informasi secara instan melalui media sosial dibandingkan melakukan eksplorasi pengetahuan melalui sumber-sumber yang kredibel. Meski demikian, peluang pengembangan perpustakaan di Indonesia dinilai sangat besar. Pertumbuhan pengguna internet, meningkatnya penggunaan smartphone, serta berkembangnya ekosistem digital nasional membuka ruang bagi lahirnya berbagai inovasi perpustakaan. Saat ini, banyak perpustakaan mulai mengadopsi konsep Smart Library, Hybrid Library, Inclusive Library, dan Human-Centered Library. Konsep-konsep tersebut menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sekaligus menjaga dimensi kemanusiaan dalam layanan informasi. Dalam konsep Smart Library, perpustakaan memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), Big Data, dan sistem otomasi untuk meningkatkan kualitas layanan. Sementara Hybrid Library mengintegrasikan koleksi fisik dan digital agar pengguna dapat mengakses informasi secara fleksibel. Adapun Inclusive Library menekankan akses informasi yang setara bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Sedangkan Human-Centered Library menempatkan pengguna sebagai pusat seluruh proses pengembangan layanan. Lebih lanjut, Rhoni Rodin menegaskan bahwa inovasi perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mencakup inovasi sosial dan inovasi layanan. Melalui program literasi digital, pemberdayaan masyarakat, pelatihan keterampilan, serta pengembangan ruang kreatif, perpustakaan dapat berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Perpustakaan juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dalam konteks tersebut, perpustakaan menjadi institusi yang bertugas meningkatkan literasi digital masyarakat sehingga mampu berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital nasional. “Perpustakaan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga katalisator pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan. Melalui literasi digital, perpustakaan membantu menciptakan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing,” jelasnya. Untuk mewujudkan transformasi tersebut, pustakawan dituntut memiliki kompetensi baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Setidaknya terdapat empat kompetensi utama yang harus dimiliki pustakawan abad ke-21, yaitu sebagai digital curator, learning facilitator, innovation leader, dan information specialist. Menurutnya, pustakawan modern tidak lagi sekadar mengelola koleksi, tetapi juga menjadi fasilitator pembelajaran, pengelola pengetahuan, pemimpin inovasi, sekaligus penjaga kualitas informasi di tengah maraknya hoaks dan disinformasi. Di akhir pemaparannya, ia menekankan pentingnya membangun budaya inovasi melalui kepemimpinan yang visioner, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan gerakan literasi digital yang berkelanjutan. “Pada akhirnya, perpustakaan yang hebat tidak diukur dari seberapa banyak koleksi yang tersimpan di raknya, melainkan dari seberapa besar dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat serta kontribusinya dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Dekan FUAD Siapkan Strategi untuk Perkuat Magang Profesi 2026
Akademik Fakultas 11 Jun 2026

Dekan FUAD Siapkan Strategi untuk Perkuat Magang Profesi 2026

FUAD IAIN Curup, — Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Curup, Dr. Fakhruddin, M.Pd.I, menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pelaksanaan Magang Profesi tahun 2026. Langkah ini dibahas dalam rapat persiapan Magang Profesi yang berlangsung di ruang rapat fakultas, Kamis (11/07). Rapat tersebut menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi mengenai arah, mekanisme, dan target pelaksanaan Magang Profesi. Kegiatan magang dipandang sebagai bagian strategis dalam menghubungkan proses pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia kerja, lembaga mitra, dan masyarakat. Dalam arahannya, Dr. Fakhruddin, M.Pd.I menegaskan bahwa Magang Profesi 2026 perlu dipersiapkan secara lebih matang agar mampu memberikan pengalaman lapangan yang bermakna bagi mahasiswa. Menurutnya, magang tidak boleh hanya dipahami sebagai kegiatan administratif, tetapi harus menjadi ruang pembentukan kompetensi, etika kerja, tanggung jawab, dan profesionalitas mahasiswa. “Magang Profesi harus dirancang dengan strategi yang jelas. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman langsung yang relevan dengan bidang keilmuan masing-masing, sehingga mereka mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan,” ujar Dr. Fakhruddin.Menurut Dekan, beberapa strategi yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut meliputi evaluasi maganag 2025, pemetaan lembaga mitra, penyesuaian lokasi magang dengan program studi, penguatan peran dosen pembimbing, penyusunan teknis pembekalan mahasiswa, serta mekanisme monitoring dan evaluasi selama pelaksanaan magang. Strategi ini diharapkan dapat membuat pelaksanaan Magang Profesi 2026 berjalan lebih terarah, terukur, dan sesuai dengan capaian pembelajaran lulusan. Wakil Dekan I FUAD IAIN Curup, Dr. Robby Aditya Putra, turut menekankan pentingnya koordinasi akademik dalam pelaksanaan Magang Profesi. Ia menyampaikan bahwa setiap program studi perlu memastikan kesesuaian antara bidang keilmuan mahasiswa, tempat magang, serta kompetensi yang ingin dicapai. “Magang Profesi perlu didukung oleh sistem yang rapi, mulai dari pembekalan, penempatan, pembimbingan, hingga evaluasi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya hadir di lembaga mitra, tetapi benar-benar belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kemampuan profesional,” jelas Dr. Robby. Melalui persiapan ini, FUAD IAIN Curup berharap pelaksanaan Magang Profesi 2026 dapat semakin memperkuat kualitas lulusan. Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, disiplin, analisis masalah, serta kepekaan sosial sesuai dengan karakter keilmuan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Rapat persiapan ini juga menjadi bagian dari komitmen FUAD IAIN Curup dalam meningkatkan mutu akademik dan memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai lembaga mitra. Dengan strategi yang lebih terencana, Magang Profesi 2026 diharapkan mampu menjadi program pembelajaran lapangan yang efektif, relevan, dan berdampak bagi mahasiswa maupun institusi mitra.

Rapat Konsorsium Keilmuan FUAD IAIN Curup. Apa Saja yang di Bahas?
Akademik Fakultas 11 Jun 2026

Rapat Konsorsium Keilmuan FUAD IAIN Curup. Apa Saja yang di Bahas?

FUAD IAIN Curup, — Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup menyelenggarakan Rapat Konsorsium Keilmuan sebagai bagian dari upaya penguatan arah pengembangan akademik, riset, kurikulum, dan identitas keilmuan fakultas. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, ketua prodi dan ketua dan sekretaris konsorsium. Rapat di laksanakan di ruang rapat fakultas, Kamis, 11 Juni 2026. Rapat tersebut dipimpin oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Curup, Dr. Fakhruddin, M.Pd.I, Dalam Dekan menegaskan bahwa konsorsium keilmuan memiliki peran penting dalam membangun fondasi akademik fakultas secara lebih terarah. Menurutnya, penguatan konsorsium tidak hanya berkaitan dengan penyusunan agenda akademik, tetapi juga menjadi dasar dalam peningkatan mutu pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. “Rapat konsorsium keilmuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat arah pengembangan fakultas. Setiap bidang keilmuan perlu memiliki peta jalan yang jelas, relevan, dan mampu menjawab tantangan akademik maupun kebutuhan masyarakat,” ujar Dr. Fakhruddin. Sementara itu, Wakil Dekan I, Dr. Robby Aditya Putra, menyampaikan bahwa konsorsium keilmuan diharapkan dapat menjadi instrumen akademik dalam menjaga mutu kurikulum dan memastikan keterkaitan antara visi keilmuan, capaian pembelajaran, riset dan pengabdian, serta pengembangan kompetensi mahasiswa. “Penguatan akademik harus dilakukan secara sistematis. Melalui konsorsium keilmuan, kita dapat memastikan bahwa proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian berjalan selaras dengan karakter keilmuan fakultas serta standar mutu pendidikan tinggi,” jelas Dr. Robby. Beberapa agenda yang dI bahas dalam rapat ini meliputi pemetaan bidang keilmuan dosen, penguatan kurikulum berbasis visi keilmuan, pemetaan Rencana Pemebelajaran Semester (RPS), pengembangan roadmap penelitian dan pengabdian, peningkatan publikasi ilmiah, serta kolaborasi akademik lintas program studi. Forum ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap kebutuhan pengembangan keilmuan yang lebih adaptif, integratif, dan berkelanjutan. Melalui rapat konsorsium ini, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Curup menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan kontribusi keilmuan. Fakultas diharapkan mampu melahirkan gagasan, riset, dan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, etika keislaman, serta kapasitas untuk berperan di tengah masyarakat.